Minggu, 06 September 2015

Udah Putusin Aja


Udah Putusin Aja. Dari judulnya saja, sudah terpikir bahwa buku ini bakal menjadi kontroversial. Kontroversial bagi remaja-remaja Indonesia yang berpikir masa muda itu adalah masa paling indah untuk bersenang-senang dan menikmati satu hal yang tak pernah habis dibahas umat manusia, yaitunya cinta. Demi meneguk kenikmatan cinta ini, mereka melakukan aktivitas sia-sia bernama ‘pacaran’. Suatu hubungan tak jelas antara sepasang muda-mudi yang selalu dihiasi dengan ketidakmatangan sikap, sikap-sikap yang bakal berakibat buruk bagi merekanantinya.Mulai dari sms-an, lalu diajak jalan, waktu jalan pegang-pegangan , sampai nanti terjadi yang namanya kecelakaan paling fatal, mereka lakukan hanya demi menikmati cinta yang selalu diidam-idamkan. Di saat semuanya tak berjalan sesuai keinginan, satu kata pamugkas untuk mengakhirinya, “putus”. Tak ada luang untuk tanggung jawab, yang berarti segala kerugian yang dialami kedua belah pihak selama berhubungan, ditanggung sendiri-sendiri. “ Pacaran nggak buat kamu dewasa, tapi buat kamu beradegan dewasa “, begitulah kira-kira.
Adalah Felix Y. Siauw, seorang mualaf yang saat ini berprofesi sebagai Islamic inspirator yang telah berhasil mengembangkan sayap dakwahnya di seluruh Indonesia melalui kicauan indahnya di twitter serta nasehat berharga di jejaring social Facebook. Sekarang, beliau juga telah menjadi salah satu penulis bestseller Indonesia melalui buku ini, Udah Putusin aja yang mencatatkan rekor sebagai buku dengan penjualan tertinggi dalam sejarah pameran buku di Indonesia. Sungguh luar biasa, bertahun-tahun berada dalam lika-liku ketidakyakinan terhadap agama yang dianut keluarganya menjadikan beliau benar-benar kritis mencari kebenaran di dunia ini. Hingga suatu hari, cahaya al-qur’an datang menerangi dan memaparkan dengan sejelas-jelasnya bahwa al-qur’an bukanlah editan manusia, dan segala hal didalamnya  bukanlah hasil kongres para petinggi agama, melainkan diciptakan oleh Pencipta itu sendiri, oleh Allah swt.
Ditengah tren pacaran yang tengah menjamur di berbagai kalangan anak muda, buku ini seolah melawan arus, menyatakan dengan setegas-tegasnya bahwa pacaran itu hanya untuk orang-orang terbuang, orang-orang yang gagal merencanakan pernikahan. Buku ini diawali dengan sebuah e-mail yang dikirimkan oleh seorang remaja muda Indonesia yang telah kehilangan kehormatanya demi menjaga hubungan cintanya dengan seorang teman lama. Sungguh miris memang, di saat kita tahu hal seperti ini bukanlah sesuatu yang luar biasa lagi, tapi sudah biasa karena memang telah terbiasa terjadi namun jarang diungkap saja, rahasia umum, begitu.
Halaman selanjutnya ternyata semakin menarik. Menarik karena yang pembahasan selanjutnya adalah soal cinta. Pembaca diajak untuk memahami cinta sebagai fitrah, bagian dari naluri-naluri yang tidak dapat diindra, namun ada dan dituntut pemenuhannya. Islam tidak melarang manusia untuk jatuh cinta, namun islam mengatur agar cinta itu berjalan pada koridornya. Islam mengatur agar makna ci nta yang luas tidak jatuh pada potensi maksiat, tapi jatuh pada potensi taat karena cinta terlalu indah jika disempitkan dengah syahwat semata. Cinta itu bebas nilai selagi netral.
Lalu bagaimana agar cinta menjadi halal ? Disini dijelaskan berbagai solusi dan langkah bagi mereka yang telah siap untuk menyegerakan menikah. Bagaimana langkah-langkah yang seharusnya ditempuh. Dan tentu juga ada solusi bagi mereka yang belum siap. Bagaimana untuk menahan dan memantaskan diri di dalamnya. Namun sebenarnya buku ini terlalu sempit jika dikatakan hanya berbicara tentang pacaran dalam Islam. Sebab, buku ini juga memberikan penjelasan logis yang dapat menuntun remaja muslim muslimah agar tidak salah dalam bergaul serta memberikan pedoman bagi orang tua untuk bisa menjaga putra putri mereka.
Di buku ini juga ada penjelasan mengapa ditulis dengan judul #UdahPutusinAja? Bukannya lebih tepat#UdahNikahinAja atau #YukPutus? Atau segala hashtag yang memotivasi agar menyegerakan menikah, bukannya provokasi untuk putus? #UdahPutusinAja memang sejatinya lebih tepat bagi pelaku pacaran. Mengapa? Sederhana saja, karena orang yang melakukan aktivitas ini adalah orang yang belum siap untuk menikah. Logikanya, bila dia sudah siap menikah, untuk apa lagi pacaran? Begitu, kan?
Lihat saja mereka yang pacaran, sebagian besar adalah anak-anak yang belum cukup umur. Masih menadah uang ke orangtua dengan seragam putih abu-abu, putih biru, bahkan putih merah. Bagaimana membicarakan pernikahan pada mereka?
OK, beberapa di antara mereka mungkin dewasa dan betul-betul siap menikah, tapi apakah orangtua mereka juga berpendapat sama dan siap menikahkan?  OK, mungkin ada yang telah dewasa dan siap dinikahkan orangtuanya, tapi berapa banyak. Maka, buku #UdahPutusinAja ini lebih relevan untuk diulas sesuai dengan keadaan remaja zaman ini.
Inilah yang paling menarik; buku ini juga memberi sanggahan untuk alasan-alasan yang sering jadi pembenaran para remaja dalam menjalani pacaran. Misalnya :
“ Pacaran nggak ngapa-ngapain kok, Cuma pegangan tangan. “
Tau nggak, “ cuma “ itu kata yang berbahaya. Karena semua kemaksiatan awalnya juga “ cuma “. Selingkuh itu awalnya, ya, “ cuma “ teman. Hamil itu juga awalnya “ cuma “ pegangan.
Buku ini juga memberikan penjelasan sesuai gaya kicauan di twitter, misalnya :
  1. Pacaran selalu dimulai dengan pengorbanan dan diakhiri saat ada korban | sebelum semua terjadi, baik kiranya akhiri sekarang
  2. Hindarkan dia dari maksiat yang hantarkan dia pada siksa neraka, itulah sayang | Melindungi kehormatanya dengan jauhkan rayuanmu, itulah cinta
  3. Lelaki terhormat takkan pertaruhkan kehormatan wanita | Dia melindunginya dengan menundukkan pandangan atau mengambilnya dengan pernikahan
  4. Lelaki sejati bukan yang banyak janji, tapi yang berani datangi wali | atau menahan diri dari perkataan tak pasti
Mau lagi ? Silahkan beli bukunya !
Gaya bahasanya renyah, gokil, ringan namun memiliki pilihan dan paduan kata yang sangat berkualitas. Saat membaca buku ini, pembaca akan dibuat tersenyum, terkadang tertawa, terkadang menarik napas panjang. Banyak yang tidak suka membaca buku tentang islam karena penyampaiannnya yang monoton dan terlalu panjang, tapi tidak dengan buku ini, dakwahnya dipaparkan dalam konsentrasi yang pas sehingga tidak monoton, dengan memakai bahasa yang tidak meggurui, namun mengajak pembaca untuk membenarkan dan meresapi dakwah tersebut. Perbandingan harga – kualitas buku sebenarnya tidak sebanding. Buku yang hanya dihargai sekitar 50 ribuan ini memakai kertas yang tebal dan full color pada setiap halaman. Halaman memiliki penanda warna pink dan nila. Halaman pink mengkhususkan pembahasan dari sisi wanita sedangkan halaman nila untuk pembahasan dari sisi pria. Visual grafis Emeralda Noor Achni yang menghiasi setiap halaman ternyata semakin menaikkan pamor kemenarikan buku ini.
Sangat sulit untuk menemukan kelemahan dari buku ini. Namun, resensi tentu harus berimbang, maka kita bisa menyentil sedikit penampilan dari buku ini yang terlalu ‘pink’ sehingga menguatkan kesan bahwa buku ini hanya diperuntukkan bagi pembaca perempuan, ditambah lagi dengan pembahasan awal mengenai bahaya laten pacaran, yang mungkin agak membuat kaum adam yang membacanya merasa tidak nyaman. Entah karena memang kata-kata yg terlalu tajam menusuk, atau karena terlalu menuduh semua pria itu jahat.
Buku ini wajib dibaca sebelum jatuh cinta, dosis dakwahnya baik untuk muda mudi yang sedang abu-abu karena cinta, juga bagi muda mudi yang saat ini tengah menjalin hubungan special karena cinta, atau juga untuk para orang tua yang saking cintanya harus bisa mendidik putra putri mereka melek akan cinta yang sebenar cinta. Buku ini terbukti fenomenal. Di beberapa sekolah, buku ini dijadikan sebagai panduan  Bimbingan dan Konseling. Oleh karena itu, pihak penerbit akan melakukan roadshow dalam rangka bedah buku ini ke sekolah, pesantren, kampus, dan masjid di seluruh kota di Indonesia. Luar biasa.
Buku ini dijual dengan harga Rp. 59.000,-  belum termasuk diskon 10%

Istriku Seribu


Penduduk negeriku malas belajar sejarah, ogah berpikir, tidak pernah merasa penting untuk mempelajari suatu persoalan melalui pertimbangan pemikiran yang saksama. Kalau ada buah busuk, mereka beramai-ramai sibuk mengutuknya, membuangnya, menghina buah itu, tanpa sedikit pun ingat pada pohonnya apalagi akarnya, terlebih lagi tanahnya—jangankan lagi pencipta tanah itu.
***
Istriku Seribu merupakan essay yang ditulis Cak Nun dalam meletakkan isu poligami pada konteks kehidupan bermasyarakat. Alih-alih tenggelam dalam debat tanpa ujung mengenai poligami dan kehidupan rumah tangga, dalam buku ini, kita akan diajak mengikuti dialektika satir antara Yai Sudrun dan Cak Nun. Mulai dari asal mula turunnya ayat yang mengatur poligami, kewajiban manusia terhadap sesamanya, prasangka manusia yang membutakan, hingga konsep cinta dalam berbagai bentuk.

Bersama keseribu istrinya, istri ar-rahman dan ar-rahim, Cak Nun mengajak kita untuk memetakan kembali batasan dan perintah Tuhan yang sesungguhnya dibuat untuk memancing akal manusia.
Buku ini dijual dengan harga Rp. 30.000,-
Belum termasuk diskon 10%

Dari Kosmologi Ke Dialog


Ditulis oleh Karlina Supelli, Buku ini menerangkan mengenai kajian pengetahuan untuk mencapai tingkat toleransi yang tinggi, semata demi memafhumi dimana batas untuk berpijak hingga tidak ada lagi fanatisme yang jumud dan akut. 

Buku ini diterbitkan oleh mizan, dan dijual dengan harga Rp. 45.000,-
Belum termasuk diskon 10%

Vienna Blood (The Libermann Papers)



Setelah The Liebermann Papers pertama, A Death in Vienna (Mortal Mischief) yang memikat, kembali lagi Penerbit Qanita menerbitkan seri kedua yang telah beredar, Vienna Blood. The Liebermann Papers yang seluruhnya (akan) mengambil setting Wina di antara tahun 1902 hingga 1914 ini memang baru terbit dua buku. Buku ketiga, Fatal Lies, direncanakan terbit tahun 2008. Sekali lagi, seperti buku pertama, Maxim Liebermann, sang psikonanalis dan murid Sigmund Freud, akan unjuk kebolehan membantu sahabatnya -Inspektur Detektif Oskar Rheinhardt, dalam rangka memecahkan misteri pembunuhan yang terjadi di kota sphinx, Wina. Max akan mengaplikasikan ilmu yang dipulung dari gurunya sambil melakukan tindakan nekat seperti yang terjadi di buku pertama. 

Dibandingkan dengan buku pertama, pembunuhan yang diceritakan dalam buku ini  lebih banyak dan memiliki tingkat kesadisan yang lebih tinggi. Rangkaian pembunuhan sadis ini dibuka dengan pembantaian Hildegard, seekor anakonda yang dikerat menjadi tiga bagian. Setelah itu terjadi pembantaian di sebuah rumah bordil yang menewaskan seorang mucikari dan tiga pelacur dengan metode pembunuhan yang sangat mengerikan; terpotong-potong, usus terburai, kelamin tercabik, dan tenggorokan tertebas. Pembunuh keempat perempuan ini meninggalkan jejak berupa lambang semacam salib di dinding yang dibuat menggunakan darah. 

Sebelum kedua kasus pembantaian tersebut terpecahkan, seorang pedagang ayam asal Ceko meregang nyawa di ujung pedang, yang diduga sebagai senjata yang sama yang digunakan pada dua kasus terdahulu. Selain ditikam, ke dalam tenggorokan korban dijejalkan gerendel. Dan seolah-olah rangkaian pembunuhan ini belum cukup, seorang pelayan lelaki asal Nubia, tewas dibunuh dengan tenggorokan terbelah dan alat kelamin tercerabut. 

Inspektur Detektif Oskar Rheindhardt tentu saja dibuat pusing oleh rangkaian pembunuhan itu. Investigasi dilakukan terhadap setiap oknum yang berpotensi melakukan tindakan kriminal, tapi kabut kebingungan menghalangi munculnya titik terang kasus. Kontribusi Amelia Lydgate memunculkan dugaan jika sang pembunuh adalah seorang pemilik toko buku tua atau seorang pustakawan. 

Ketika menyaksikan opera The Magic Flute karya Mozart, Max menemukan jika kasus pembunuhan yang sedang ditangani sahabatnya berhubungan erat dengan opera ini. Berdasarkan analisis Max dan Oskar, pembunuh berantai ini mereka sebut sebagai Salieri, dan mereka yakin, setelah si pelayan asal Nubia, masih akan ada lagi pembunuhan berikutnya. 

Simultan dengan terjadinya pembunuhan dan pengusutan pembunuhan, Asosiasi Sastra Eddik pimpinan Gustav von Triebenbach menggalang kekuatan. Organisasi ini secara terbuka mengembuskan permusuhan dengan berbagai kalangan, termasuk Freemason, yang salah satu anggotanya ternyata Mozart, pencipta opera The Magic Flute. Di antara mereka terdapat seorang musisi bernama Herman Aschenbrandt yang tengah menulis opera berdasarkan novel Carnuntuum karya Guido von  List, dan Andreas Olbricht, seorang pelukis yang hendak melaksanakan pameran tunggal untuk karya-karyanya. 

Pengusutan kasus pembunuhan oleh Max dan Oskar menemui titik terang ketika identitas si pembunuh diketahui (juga) sebagai pemain cello.  Tapi, ternyata, tetap tidak mudah membekuk si pembunuh sadis ini. Untuk membekuknya sekaligus mengungkap motivasi tindakannya, Max sekali lagi mesti melakukan tindakan nekat. Bukan hanya menyusup ke dalam organisasi rahasia Freemason,  tapi juga mempertaruhkan nyawanya sendiri. Jika Max gagal, berarti mata pedang si pembunuh akan meminta korban nyawa lagi. Meski hanya sedikit, latihan yang dilakukan Max pada awal novel akan memberinya bantuan untuk bertahan. 

Di sela-sela pengusutan pembunuhan berantai itu, Max Libermann diserang kegalauan akan cintanya terhadap Clara Weiss, calon istrinya. Dalam kisaran cintanya dengan Clara, Max tidak menemukan gairah yang sama seperti ketika ia membayangkan Amelia Hydgate, mantan pasiennya yang pintar. Balada cinta Max bergulir di antara tugasnya sebagai psikoanalis yang mempertemukannya dengan Herr Beiber, seorang lelaki yang didiagnosisnya sebagai pengidap paranoia erotica. Tak disangka, sesi terapi dengan Herr Beiber ini akan memberikan penegasan pada Max siapa sesungguhnya si pembunuh berantai yang dicari-cari. 

Bagi yang sudah membaca A Death in Vienna, sekali lagi akan merasakan pengalaman baca yang kurang lebih sama mengasyikkan dalam Vienna Blood. Frank Tallis masih menggunakan formula andalannya, misteri pembunuhan yang tidak mudah dipecahkan, tersangka yang tampak potensial, dan pelacakan serta pengungkapan motivasi pembunuhan yang berbelit. Semuanya tidak hanya membutuhkan kecerdasan analisis seorang Maxim Liebermann, tapi juga dukungan teori Sigmund Freud. 

Seperti A Death in Vienna, Vienna Blood dielaborasi tanpa tergesa, panjang lebar, dalam bab-bab yang bergaya cerpen, sehingga tidak membosankan untuk diikuti. Seluruh kisah dipaparkan dalam 88 bab, yang terangkum dalam 4 bagian besar, berturut-turut terdiri atasTersangka Utama, Kerajaan Malam, Salieri, dan Dunia Bawah Tanah. Setiap bab diakhiri dengan pas, dengan cara yang tepat untuk mengundang pembaca segera lanjut ke bab berikutnya. 
  
Meski identitas pembunuh telah diketahui sejak bab 71 (dengan catatan, harus diikuti dari awal untuk menghindari kebingungan), perburuan si pembunuh sekaligus pembongkaran alasannya melakukan tindakan keji tetap menjadi materi yang sangat menarik untuk disimak. Rahasia yang terungkap berkat kecakapan Max Liebermann memanfaatkan psikonanalisis, hasil pemupukan tunas dendam yang tumbuh di masa kecil sang pembunuh, terasa sangat kuat dan mencengangkan sehingga membuat novel ini terasa lebih bersinar. 

Beberapa bagian terkesan sangat kebetulan, misalnya pengungkapan wajah si pembunuh melalui pasien Max, atau ternyata opera The Magic Flute memiliki pengaruh pada tindakan nekat dan sadis si pembunuh. Tapi hal ini sama sekali tidak mengurangi daya tarik novel berlatar musim dingin tahun 1902 ini. Apalagi masalah kebetulan memang jamak ditemukan dalam novel detektif pembunuhan semacam ini. 

Dengan karakter utama yang sama, beberapa karakter figuran yang pernah muncul di seri sebelumnya, dan tambahan karakter yang memberi nuansa baru, Vienna Blood kian mengukuhkan nama Frank Tallis, psikolog klinis peraih Writers' Award (Arts Council of Great Britain, 1999) dan New London Writers'Award (London Arts Board, 2000), sebagai novelis kisah detektif brilian yang karya-karyanya sangat layak dinikmati dan ditunggu kehadirannya. 

Edisi Indonesia terbitan Penerbit Qanita ini diterjemahkan dengan apik. Naskah dicetak menggunakan huruf  berukuran kecil, tapi masih tetap enak dibaca. Seingat saya, tidak ada kesalahan cetak yang membuat aktivitas membaca menjadi terganggu. Penyuntingan novel juga sangat bagus, tidak ada kalimat-kalimat aneh membingungkan. 

Buku ini dijual dengan harga Rp. 35.000,-. Belum termasuk diskon 10%

Garis Perempuan


Buku GARIS PEREMPUAN adalah novel yang mengangkat tentang empat orang perempuan yang tumbuh bersama. Mereka menjalani takdir sebagai perempuan dan menemukan bahwa hidup tak selalu terkonfigurasi serupa dongeng-dongeng masa lalu para peri.
Buku ini ditulis oleh Sanie B. Kuncoro dan diterbitkan oleh Penerbit Bentang, dijual dengan harga Rp. 35.000

NB: harga di atas belum dikenai diskon 10%

Arus Bawah



Sinopsis:
Kiai Semar menghilang. Gareng, si Filsuf Desa, gugup tak alang kepalang. Namun, Petruk malah senyum-senyum saja melihat kakaknya belingsatan. Apalagi Bagong yang kerjaannya hanya makan dan tertawa-tawa. Bahkan, Dusun Karang Kedempel yang semakin rusak dan sedang membutuhkan kehadiran Semar pun tak merasa perlu mencarinya.


Di tengah dominasi pakem Mahabharata yang mencengkeram kehidupan Karang Kedempel, tugas Punakawan-lah untuk merintis Gerakan Carangan. Menjadi alternatif. Mengusahakan perjuangan dari basis. Membuat warga Karang Kedempel mengerti bahwa rakyat adalah Dewa-Dewa Agung yang memegang kedaulatan tertinggi di Karang Kedempel. Menyadarkan mereka bahwa keadaan boleh membatu karang, tetapi air harus terus menetes dan kelak melubanginya.



Petruk yang terlihat tenang sebenarnya juga geram. Dulu Semar-lah yang menyeret Gareng, Petruk, dan Bagong ke Karang Kedempel untuk menemani dan menggembalakan kaum penguasa menuju sesuatu yang benar. Tugas ke-Punakawan-an mereka masih jauh dari purna, tapi kenapa Semar malah lenyap tiada kabar?



Tentang Penulis



Satrawan dan budayawan ini lahir Rabu Legi 27 Mei 1953 di Jombang. Selain menulis, ia sangat aktif mengisi pengajian, seminar, diskusi, atau workshop di bidang pengembangan sosial, keagamaan, kesenian, dan lainnya.



Pernah belajar di Pondok Pesantren Gontor dan sekolah menengah di Yogyakarta. Lantas mencicipi Fakultas Ekonomi UGM, kemudian bergabung dengan PSK (Persatuan Studi Klub) di bawah asuhan penyair Umbu Landu Paranggi. Kelompok ini ikut mewarnai upaya pengembangan kreativitas para penulis di Yogyakarta pada zamannya. Ia juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina (1980); International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS (1984); Festival Penyair Internasional di Rotterdam (1984); dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985).



Karya puisi dan esai Emha cukup banyak dibukukan. Naskah lakon/dramanya banyak dipentaskan dan sempat fenomenal seperti Lautan Jilbab. Puisi Emha yang diterbitkan dalam bentuk buku: “M” Frustasi (1975), Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978), 99 untuk Tuhanku (1980), Suluk Pesisiran (1989), Lautan Jilbab (1989), Cahaya Maha Cahaya (1991), Sesobek Buku Harian Indonesia (1993), Syair-Syair Asmaul Husna (1994), dan Abacadabra Kita Ngumpet .... (1994). Sedangkan kumpulan kolom dan esainya, antara lain Indonesia Bagian dari Desa Saya (1980), Sastra yang Membebaskan (1984), Dari Pojok Sejarah: Renungan Perjalanan (1985), Slilit Sang Kiai (1991), Bola-Bola Kultural (1993), Secangkir KopiJon Pakir (1992), Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1994), Sedang Tuhan pun Cemburu (1994).

Buku ARUS BAWAH diterbitkan oleh Bentang dan dijual dengan harga Rp. 49.000,-.

NB: harga diatas belum dikenai diskon 10%

Sabtu, 05 September 2015

Patung Cinta



PATUNG CINTA adalah sebuah novel yang akan membuat anda tersentak, mengerutkan dahi dan kemudian tersenyum. Novel ini akan memperkaya wacana kritis kita tentang pergulatan pemikiran relasi antara Gender-Pesantren-Modernitas. Penulis pun berhasil mengangkat aspek paling mendasar dalam kehidupan, yaitu: Cinta!

Dalam novel ini, penulis mencoba mendialektikakan agama dan sosial. Kejernihan pola pikir adalah kemegahannya. Dengan membaca novel ini para pembaca ditantang untuk berani berfikir kritis, bertindak santun dan tegap berani menghadapi budaya agama yang telah semu dari identitas diri bangsa.

Buku PATUNG CINTA ditulis oleh Fauz Noor dan diterbitkan oleh  Penerbit Semesta. Dijual dengan harga Rp. 35.000,-